Senin, 31 Mei 2010

BARAPAN KEBO’




Laporan

LIA FITRIANI, ROSSI NURASILA, REFANDO AGAN DANIYASA dan GUNUNG HERDIAN

Barapan kebo di sebut juga karapan kerbau. Umumya di mainkan oleh remaja dan orang dewasa. Permainan ini dilaksanakan di sawah pada awal musim tanam sebelum para petani membajak sawahnya. Tempat permainanya berlumpur atau becek. Di desa tertentu sseperti taliwang permainan ini di laksanakan di sungai yang berlumpur dan berpasir.
Di namakan barapan kerbau, Karena permainan ini mengunakan sepasang kerbau (kebo’) jantan yang di pacu dan umumnya sambil di pecut atau di pukul punggungnya, seperti yang di katakan oleh bapak Sarapudin ‘’ kalau di pukul semakin keras maka kerbau tersebut akan berlari dengan kencang”. Tongkat yang di gunakan untuk melecut kerbau barapan di kenal dengan sebutan “mangkar”. Dan orang yang mengendalikan kerbau disebut “juki”. Orang yang mengendalikan kerbau atau juki selalu berusaha agar pasangan kerbaunya dapat berlari sekencang kencangnya untuk mencapai “saka”. Hadiah hadiah bagi pemenang di tempatkan di sebuah tiang yang di sebut “lasang”.


A. PERLENGKAPAN BARAPAN KERBAU
Beberapa peralatan dan perlengkapan yang di pergunakan dalam permainan barapan kebo yaitu:
1.Areal sawah
Merupakan arena barapan kebo. Arena tersebut harus becek dan berair. Biasanya arena barapan menggunakan dua petak
2.Sepasang kerbau
Dalam permaenan barapan kebo,tiap peserta adalah kebo jantan berpasangan.psangan tersebut akan lebih baik jika besar dan kekuatan larinya sama. Antara kerbau satu dan pasangannya di hubungkan dengan noga.umumnya kerbau barapan di hiasi hiasan di kepalanya.
3.Noga.
Terbuat dari kayu yang masing-masing di iket di atas leher kerbau
Fungsi noga adalah:
- Agar pasangan kerbau satu sama lain tidak dapat terpisah
- Tempat terikatnya kareng
4.Kareng
Terbuat dari kayu atau bambu yang salah satu ujungnya tergantung atau terikat pada noga
Fungsi kareng adalah:
-tempat berdirinya Joki atau pengendara
5.Mangkar
Adalah tongkat yang terbuat dari kayu dan dihiasi dengan jumbai-jumbai atau benang warna-warni
Fungsi Mangkar
- Dipergunakan oleh joki atau pengendara untuk memukul punggung kerbau agar pasangan kerbau dapat berlari bagncang-kencangnya
- Sebagai alat atau perlengkapan dalam ngumang
- Untuk mengarahkan kerbau agar menuju ke tiang saka.
6.Saka atau tiang saka
Umumnya terbuat dari kayu yang ditancapkanke dalam lumpur sehingga dapat berdiri tegak setinggi lebih kurang satu meter. Di beberapa desa biasanya ujung tiangsaka dibaluti dengan kain atau daun-daunan, dan ada pula yang dibiarkan polos tanpa ada balutan.
Fungsi Saka:
-sebagai sasaran yang menjadi tujuan dalam barapan kebo, sehingga pasangan kerbau yang tidak dapat melanggar saka dinyatakan kalah.

7.Tiang pancang
Biasnya terbuat dari kayu atau bamboo yang berjumlah dua buah ditancapkan sebelum saka dan berdiri tegak setinggi kurang lebih satu meter
Tiap pasangan kerbau yang akan menuju ke tiang saka terlebih dahulu harus melalui celah antara kedua tiang pancang.
Pasangan kerbau yang tidak berhasil melalui celah tersebut meskipun mampu melangar tiang saka tetap akan dianggap kalah
Fungsi tiang pancang:
- Sbagai pintu gerbang atau jalan masuknya pasangan kerbau parapansebelum menuju saka.
Pasangan kerbau yang dapat melanggar saka, tetapi masuknya tidak melalui tiang pancang, maka dianggap tidak sah.
8.bendera
Bendera yang digunakan dalam permainan ini sebanyak dua buah, yaitu satu buah dipakai oleh juri di garis star(palepas) dan satu buah lagi dipakai oleh juri di dekat saka(garis finish)
Fungsi bendera:
- untuk memberi tanda bahwa pasangan kerbau mulai berlari.
- untuk member tanda bahwa kerbau telah melanggar saka atau tidak melanggar saka.
9. Sandro saka
Adalah seoarang laki-laki yang dianggap sebagai orang
pintar atau orang berilmu dan dituakan di tengah-tenh=gah masyarakat.
Fungsi sandro saka adalah:
-mengurus saka atau tiang saka , baik menancapkan saka atau mencabut saka.
-menjaga saka agar jangan ampai dipengaruhi oleh kekuatan-kekuatan ilmu jahat yang dapat mencelakakan peserta barapan kebo’
10. Pengukur waktu
Yang biasa digunakan adalah stop watch atau arloji
Yaitu untuk mengukur waktu yangdigunakan oleh pasangan kerbau sejak tanda pada bendera starsampai tanda pada bendera di dekat saka.
Fungsi pengukur:
-untuk mengetahui beberapa waktu yang dihabiskan oleh sepasang kerbau sejak dilepas hingga mencapai saka.
-untuk mengetahui apakah pasangan kerbau melanggng berhasil melanggar saka tetapi larinya lamban maka pasangan kerbau itu tidak berhak mengikuti tahap berikutnya.

B. ATURAN BARAPAN KEBO'
Pasangan kerbau (kebo’) yang telah di daftarkan oleh pemiliknya untuk menjadi peserta barapan di kelompokan sesuai dengan umurnya. Ada beberapa kelas pengelompokan dalam barapan kebo’ yaitu;
1. Kelas TK cilik (umurnya < 1thn)
2. Kelas TK A (umurnya 1thn)
3. Kelas TK B (umurnya 2 thn)
4. Kelas O (umurnya 3 thn)
5. Kelas harapan (umurnya 4thn)
6. Kelas tunas ( umurnya 5 thn)
7. Kelas dewasa (umurnya 6thn)

Tiap pasang kerbau di beri nama, agar mudah di bedakan antara pasangan satu dengan pasangan lainya.
Berikut ini beberapa aturan dalam permainan barapan kebo’ sebagai berikut:
1. Aturan di garis star (palepas)
a. Pasangan kerbau yang telah terdaftar sebagai peserta barapan akan di lepas di palepas sesuai dengan gilranya
b. Pada tahap pertama akan di lepas kerbau kerbau daari kelas tekecil yaitu TK cilik, kemudian TK A, TK B, O, Harapan, Tunas, dan kelas Dewasa.
c. Panitia akan memanggil nama pasangan kerbau yang mendapat giliran untuk di lepas.
d. Pasangan kerbau yang telah bersiap siap di palepas, baru dapat berlari jika tanda lepas telah di berikan oleh pemegang bendera star.
e. Kerbau yang berlari sebelum tanda di berikan, harus kembali lagi ke palepas.
f. Kecepatan kerbau berlari mulai di hitung pada saat tanda lepas di berikan.
2. Aturan selama berlari sampai mencapai saka
a. Pasangan kerbau yang telah di lepas dapat berlari sekencang kencangnya menuju ke tiang saka.
b. Kerbau pada saat berlari dapat mempergunakan seluruh arena barapan, asalkan tidak melewati bagian belakang daerah tiang saka.
c. Selama kerabau berlari, pengendara tidak boleh terjatuh sehingga pada saat mencapai saka pasangan kerbau dalam kedaan lengkap.
d. Untuk mencapai saka, pasangan kerbau yang berlari harus melalui celah tiang pancang, jika tidak maka meskipun kerbau dapat menabrak tiang saka tetap di anggap tidak sah’
e. Bila dalam permainan tidak di sediakan tiang pancang, maka berlaku ketentuan khusus yang telah di sepakati bersama para panitia dan pemilik kerbau beserta barapan.
f. Perhitungan waktu/kecepatan kerbau berakhir pada saat ada tanda bendera dari petugas pemegang bendera di sekitar tiang saka.
g. Pasangan keerbau yang tidak melangar saka, tidak perlu di hitung waktunya.
h. Pasangan kerbau yang dinyatakan menang adalah pasangan yang dapat melangar tiang saka serta larinya paling cepat.

Selasa, 04 Mei 2010

SEJARAH TEKNIK BATIK

Seni pewarnaan kain dengan teknik pencegahan pewarnaan menggunakan malam adalah salah satu bentuk seni kuno. Penemuan di Mesir menunjukkan bahwa teknik ini telah dikenal semenjak abad ke-4 SM, dengan diketemukannya kain pembungkus mumi yang juga dilapisi malam untuk membentuk pola. Di Asia, teknik serupa batik juga diterapkan di Tiongkok semasa Dinasti T'ang (618-907) serta di India dan Jepang semasa Periode Nara (645-794). Di Afrika, teknik seperti batik dikenal oleh Suku Yoruba di Nigeria, serta Suku Soninke dan Wolof di Senegal.[2]. Di Indonesia, batik dipercaya sudah ada semenjak zaman Majapahit, dan menjadi sangat populer akhir abad XVIII atau awal abad XIX. Batik yang dihasilkan ialah semuanya batik tulis sampai awal abad XX dan batik cap baru dikenal setelah Perang Dunia I atau sekitar tahun 1920-an.[3]
Walaupun kata "batik" berasal dari bahasa Jawa, kehadiran batik di Jawa sendiri tidaklah tercatat. G.P. Rouffaer berpendapat bahwa tehnik batik ini kemungkinan diperkenalkan dari India atau Srilangka pada abad ke-6 atau ke-7. [2]Di sisi lain, J.L.A. Brandes (arkeolog Belanda) dan F.A. Sutjipto (arkeolog Indonesia) percaya bahwa tradisi batik adalah asli dari daerah seperti Toraja, Flores, Halmahera, dan Papua. Perlu dicatat bahwa wilayah tersebut bukanlah area yang dipengaruhi oleh Hinduisme tetapi diketahui memiliki tradisi kuna membuat batik.[4]
G.P. Rouffaer juga melaporkan bahwa pola gringsing sudah dikenal sejak abad ke-12 di Kediri, Jawa Timur. Dia menyimpulkan bahwa pola seperti ini hanya bisa dibentuk dengan menggunakan alat canting, sehingga ia berpendapat bahwa canting ditemukan di Jawa pada masa sekitar itu.[4]
Legenda dalam literatur Melayu abad ke-17, Sulalatus Salatin menceritakan Laksamana Hang Nadim yang diperintahkan oleh Sultan Mahmud untuk berlayar ke India agar mendapatkan 140 lembar kain serasah dengan pola 40 jenis bunga pada setiap lembarnya. Karena tidak mampu memenuhi perintah itu, dia membuat sendiri kain-kain itu. Namun sayangnya kapalnya karam dalam perjalanan pulang dan hanya mampu membawa empat lembar sehingga membuat sang Sultan kecewa.[5] Oleh beberapa penafsir,who? serasah itu ditafsirkan sebagai batik.
Dalam literatur Eropa, teknik batik ini pertama kali diceritakan dalam buku History of Java (London, 1817) tulisan Sir Thomas Stamford Raffles. Ia pernah menjadi Gubernur Inggris di Jawa semasa Napoleon menduduki Belanda. Pada 1873 seorang saudagar Belanda Van Rijekevorsel memberikan selembar batik yang diperolehnya saat berkunjung ke Indonesia ke Museum Etnik di Rotterdam dan pada awal abad ke-19 itulah batik mulai mencapai masa keemasannya. Sewaktu dipamerkan di Exposition Universelle di Paris pada tahun 1900, batik Indonesia memukau publik dan seniman.[2]
Semenjak industrialisasi dan globalisasi, yang memperkenalkan teknik otomatisasi, batik jenis baru muncul, dikenal sebagai batik cap dan batik cetak, sementara batik tradisional yang diproduksi dengan teknik tulisan tangan menggunakan canting dan malam disebut batik tulis. Pada saat yang sama imigran dari Indonesia ke Persekutuan Malaya juga membawa batik bersama mereka.

ALIRAN SENI LUKIS


Surrealisme
Lukisan dengan aliran ini kebanyakan menyerupai bentuk-bentuk yang sering ditemui di dalam mimpi. Pelukis berusaha untuk mengabaikan bentuk secara keseluruhan kemudian mengolah setiap bagian tertentu dari objek untuk menghasilkan sensasi tertentu yang bisa dirasakan manusia tanpa harus mengerti bentuk aslinya.
Kubisme
Adalah aliran yang cenderung melakukan usaha abstraksi terhadap objek ke dalam bentuk-bentuk geometri untuk mendapatkan sensasi tertentu. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Pablo Picasso.
Romantisme
Merupakan aliran tertua di dalam sejarah seni lukis modern Indonesia. Lukisan dengan aliran ini berusaha membangkitkan kenangan romantis dan keindahan di setiap objeknya. Pemandangan alam adalah objek yang sering diambil sebagai latar belakang lukisan.
Romantisme dirintis oleh pelukis-pelukis pada zaman penjajahan Belanda dan ditularkan kepada pelukis pribumi untuk tujuan koleksi dan galeri di zaman kolonial. Salah satu tokoh terkenal dari aliran ini adalah Raden Saleh.
Plural Painting
Adalah sebuah proses beraktivitas seni melalui semacam meditasi atau pengembaraan intuisi untuk menangkap dan menterjemahkan gerak hidup dari naluri kehidupan ke dalam bahasa visual. Bahasa visual yang digunakan berpijak pada konsep PLURAL PAINTING. Artinya, untuk menampilkan idiom-idiom agar relatif bisa mencapai ketepatan dengan apa yang telah tertangkap oleh intuisi mempergunakan idiom-idiom yang bersifat: multi-etnis, multi-teknik, atau multi-style.
Ekspressionisme
Adalah kecenderungan seorang seniman untuk mendistorsi kenyataan dengan efek-efek emosional. Ekspresionisme bisa ditemukan di dalam karya lukisan, sastra, film, arsitektur, dan musik. Istilah emosi ini biasanya lebih menuju kepada jenis emosi kemarahan dan depresi daripada emosi bahagia.
Fauvisme
Adalah suatu aliran dalam seni lukis yang berumur cukup pendek menjelang dimulainya era seni rupa modern. Nama fauvisme berasal dari kata sindiran "fauve" (binatang liar) oleh Louis Vauxcelles saat mengomentari pameran Salon d'Automne dalam artikelnya untuk suplemen Gil Blas edisi 17 Oktober 1905, halaman 2. Kepopuleran aliran ini dimulai dari Le Havre, Paris, hingga Bordeaux. Kematangan konsepnya dicapai pada tahun 1906.
Realisme
Di dalam seni rupa berarti usaha menampilkan subjek dalam suatu karya sebagaimana tampil dalam kehidupan sehari-hari tanpa tambahan embel-embel atau interpretasi tertentu. Maknanya bisa pula mengacu kepada usaha dalam seni rupa unruk memperlihatkan kebenaran, bahkan tanpa menyembunyikan hal yang buruk sekalipun.
Pembahasan realisme dalam seni rupa bisa pula mengacu kepada gerakan kebudayaan yang bermula di Perancis pada pertengahan abad 19. Namun karya dengan ide realisme sebenarnya sudah ada pada 2400 SM yang ditemukan di kota Lothal, yang sekarang lebih dikenal dengan nama India.
Naturalisme
Di dalam seni rupa adalah usaha menampilkan objek realistis dengan penekanan seting alam. Hal ini merupakan pendalaman labih lanjut dari gerakan realisme pada abad 19 sebagai reaksi atas kemapanan romantisme.
Salah satu perupa naturalisme di Amerika adalah William Bliss Baker, yang lukisan pemandangannya dianggap lukisan realis terbaik dari gerakan ini. Salahs atu bagian penting dari gerakan naturalis adalah pandangan Darwinisme mengenai hidup dan kerusakan yang telah ditimbulkan manusia terhadap alam.

ELEMEN ELEMEN DALAM SENI LUKIS


Guna mencapai titik keberhasilan dalam melukis, maka sangat diperlukan adanya pemahaman tentang Elemen Visual dalam Seni Lukis.Elemen Visual tersebut antara lain :1. Garis : yakni titik _titik yang salin berhimpitan serta berkelanjutan.Secara umum bentuk garis dibagi menjadi 3 ( tiga ) yakni :a. Garis lurus – horizontal – vertical.b. Garis Lengkung atau bergelombang.c. Garis Patah _ patah ( Zig zag – siku _ siku – sudut tajam )2. Bidang : merupakan hasil perpotongan beberapa garis ( garislengkung ) yang bertemu ujung pangkalnya.Bidang dapat diciptakan dari sekelompok warna, misalnya : menyentuhnya kuas yang sudah bercampur dengan warna diatas bidang ( kertas ).Biasa disebut dengan spot ( noktah ). Bidang yangterjadi karena pertemuan garis lengkung disebutshape.3. Warna : merupakan elemen visual yang mempunyai daya tarik tersendiri . Penilaian warna dapat bersifat :- symbolis.- media ekspresi.- warna sebagai warna.4. Nada dan Gelap Terang :Nada ( irama ) dalam seni lukis timbul karena adanya perbedaan tebal tipis / tinggi rendahnya dari susunan garis , warna , bidang dan sebagainya.Yusuf Affandi dalam “ Dasar _ Dasar Disain “ memberikan tiga kemungkinan utama terciptanyairama , yaitu :a. karena pengulangan bidang / bentuk atau garis yang beraturan , dengan jarak dan bentuk yang sama.b. Karena perbedaan ukuran / bentuk yang teratur dan berkelanjutan.
c. Karena perbedaan jarak ruang yang menerus antara bentuk / bidang yang selaras dalam gerak.5. Tekstur :Adanya sifat ( kualitas ) permukaan bidang. Terbagimenjadi 2 ( dua ) yakni : - tekstur nyata dan tekstur semu.- Tekstur Nyata : kesan yang diterima dengan permukaan bidangnya memang sesuai.- Tekstur semu : sifat / kesan permukaan suatu bidang hanya merupakan tipuan ( hadir karena penguasaan gelap terang yang sudah memadai ).6. Komposisi :Secara sederhana disebut dengan susunan. Unsur utama dari komposisi adalah keseimbangan ( balance ). Balance dapat diartikan sebagai unsure _ unsure garis , bidang , warna dan sebagainya memberi rasa seimbang serta memuaskan kepada kita yang melihat atau merasakannya.7. Dominasi :Biasa disebut dengan center of interest , kehadirannya ditujukan untuk menonjolkan bagian tertentu yang sekiranya perlu disampaikan.Ada kalanya center of interest hanya ditandai dengan warna yang mencolok dan menarik ( warna terang ) jika latar belakangnya warna _ warna gelap , demikian juga sebaliknya.8. Kesatuan ( Totalitas ) :Adalah perpaduan / keselarasan antara unsure _ unsure visual menjadi satu kesatuan ungkapan dan kesatuan makna.

SENI KRIYA NUSANTARA



Seni kriya di Nusantara sangat beragam bentuk dan jenisnya. Kondisi geografis dan geopolitis sangat memungkinkan tumbuhnya karya seni yang beranekaragam yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. Semuanya merupakan ciri khas budaya tradisional masyarakatnya.
Berdasarkan jenisnya, seni kriya di Nusantara dikelompokkan menjadi:
1.Seni kerajinan kulit, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari kulit yang sudah dimasak, kulit mentah atau kulit sintetis. Contohnya: tas, sepatu, wayang dan lain-lain.
2.Seni kerajinan logam, ialah kerajinan yang menggunakan bahan logam seperti besi, perunggu, emas, perak. Sedangkan teknik yang digunakan biasanya menggunakan sistem cor, ukir, tempa atau sesuai dengan bentuk yang diinginkan. Contohnya pisau, barang aksesoris, dan lain-lain.
3.Seni ukir kayu, yaitu kerajinan yang menggunakan bahan dari kayu yang dikerjakan atau dibentuk menggunakan tatah ukir. Kayu yang biasanya digunakan adalah: kayu jati, mahoni, waru, sawo, nangka dan lain-lain. Contohnya mebel, relief dan lain-lain.
4.Seni kerajinan anyaman, kerajinan ini biasanya menggunakan bahan rotan, bambu, daun lontar, daun pandan, serat pohon, pohon pisang, enceng gondok, dll. Contohnya: topi, tas, keranjang dan lain-lain.
5.Seni kerajinan batik, yaitu seni membuat pola hias di atas kain dengan proses teknik tulis (casting) atau teknik cetak (printing). Contohnya: baju, gaun dan lain-lain.
6.Seni kerajinan keramik, adalah kerajinan yang menggunakan bahan baku dari tanah liat yang melalui proses sedemikian rupa (dipijit, butsir, pilin,putar, pembakaran dan glasir) sehingga menghasilkan barang atau benda pakai dan benda hias yang indah. Contohnya: gerabah, piring dan lain-lain.
Sebagian orang juga mengelompokkan seni kriya berdasarkan tekniknya, yaitu: kriya tempelan atau aplikasi, seni kriya konstruksi, seni kriya anyam, seni kriya ukir dan lain-lain.Sedangkan berdasarkan bahan pembuatannya antara lain ada yang disebut kriya tanah liat, kriya kriya plastik, kriya logam dan lain-lain. Berdasarkan alat yang digunakan pada proses pembuatannya kriya dibedakan pula menjadi kriya pahatan, kriya bubutan, kriya cetakan dan sebagainya. Sementara berdasarkan tujuan pembuatannya kriya digolongkan ke dalam kriya terapan, kriya untuk hiasan dan lain-lain.

APRESIASI


Pengertian Apresiasi
Ditinjau dari asal katanya apresiasi terbentuk dari kata appreciation, dalam bentuk kata kerja yaitu to appreciate yang berarti menyadari sepenuhnya sehingga mampu menilai dengan semestinya. Dengan kata lain menyadari sepenuhnya seluk-beluk karya seni serta menjadi sensitif terhadap segi-segi estetiknya sehingga mampu menikmati dan menilai karya tersebut dengan semestinya.
Karya seni merupakan bentuk ungkapan perasaan dan pikiran seniman yang memiliki nilai estetik. Antara bentuk karya dan nilai yang dikandungnya merupakan dua hal yang tidak bisa dipisahkan. Bentuk karya seni tidak lain adalah sebuah tanda yang memiliki makna tergantung pada subjek pengamatnya.dalam dunia seni, proses kreasi dan proses apresiasi sangat penting. Apresiasi dan juga kritik seni dilakukan melalui proses pengamatan.
Proses pengamatan merupakan aktivitas fisik dan psikis yang dilakukan oleh subjek dalam menangkap gejala inderawi yang ada di hadapannya. Dikatakan aktivitas fisik dan psikis karena dalam pengamatan yang berperan tidak hanya alat indera dan stimulinya tetapi juga otak dan proses mentalnya. Pengamatan atau juga observasi merupakan usaha manusia untuk mendapatkan pengetahuan. Pengamatan tidak hanya selalu menggunakan salah satu alat indera saja, tetapi bisa menggunakan beberapa alat indera sekaligus.
Pengamatan terhadap karya seni dan juga lingkungan visual lainnya tidak sekedar membongkar tanda atau simbol untuk mendapatkan maknanya tetapi juga memberi tanggapan terhadapnya. Mengamati dan menanggapi karya seni sama pentingnya dengan mencipta karya seni itu sendiri.
Proses menanggapi suatu karya seni biasanya melalui beberapa tahapan yaitu: persepsi, interpretasi dan pengambilan keputusan. Tahap persepsi merupakan tahap awal dimana pengamat dapat membedakan kualitas sesuatu dengan jelas. Tahap kedua merupakan tahap interpretasi sebagai sumber perasaan dan makna. Tahap ketiga merupakan tahap penentuan tentang arti dari pengalaman tersebut.
Empati (emphaty) dan jarak psikis merupakan strategi atau cara bersikap dalam menanggapi objek yang kita hadapi. Kita bisa menanggapi suatu objek secara subjektif maupun objektif. Empati adalah gambaran pribadi seseorang ke dalam situasi tertentu. Empati atau dalam bahasa Jerman “einfuhlung” berarti perasaan ke dalam (feeling into), mencakup perasaan terhadap suatu objek secara tidak kita sadari, dengan demikian seolah-olah kita menjadi bagian dari objek tersebut. Adanya sikap empati kadang-kadang mengakibatkan kegagalan membedakan antara perasaan kita sendiri dengan bentuk-bentuk visual yang memicunya. Jarak psikis merupakan upaya untuk mengatasi hal itu. Dengan sikap mengambil jarak maka kita akan dapat mengamati objek secara objektif. Sikap mengambil jarak secara psikis akan menghasilkan simpati, yaitu merasakan keadaan objek tanpa harus terlibat di dalamnya. Kita harus dapat merasakan keadaan objek seni dengan sikap “tanpa pamrih” (disinterested).
Menghayati karya seni kriya tidak sesulit menghayati seni murni. Perbedaannya terdapat pada nilai pakai (utility) yang di dalamnya mencakup syarat security, comfortable, dan flexibility, dan yang kedua adalah persyaratan estetika.Persyaratan estetikapun tidak menjadi penghalang penghayat untuk berapresiasi karena estetika mengikuti terapannya. Asalkan estetika mendukung terapannya, maka hal tersebut akan mempermudah apresiasi. Di samping itu estetika pada seni kriya adalah estetika murni, artinya estetika yang indah dan nyaman tanpa mencari lambang apapun seperti halnya estetika pada seni murni.

ESTETIKA


Estetika secara sederhana adalah ilmu yang membahas keindahan, bagaimana ia bisa terbentuk, dan bagaimana seseorang bisa merasakannya. Pembahasan lebih lanjut mengenai estetika adalah sebuah filosofi yang mempelajari nilai-nilai sensoris, yang kadang dianggap sebagai penilaian terhadap sentimen dan rasa. Estetika merupakan cabang yang sangat dekat dengan filosofi seni.
Etimologi
Estetika berasal dari Bahasa Yunani, αισθητική, dibaca aisthetike. Pertama kali digunakan oleh filsuf Alexander Gottlieb Baumgarten pada 1735 untuk pengertian ilmu tentang hal yang bisa dirasakan lewat perasaan.
Pada masa kini estetika bisa berarti tiga hal, yaitu:
1. Studi mengenai fenomena estetis
2. Studi mengenai fenomena persepsi
3. Studi mengenai seni sebagai hasil pengalaman estetis
Penilaian keindahan
Meskipun awalnya sesuatu yang indah dinilai dari aspek teknis dalam membentuk suatu karya, namun perubahan pola pikir dalam masyarakat akan turut mempengaruhi penilaian terhadap keindahan. Misalnya pada masa romantisme di Perancis, keindahan berarti kemampuan menyajikan sebuah keagungan. Pada masa realisme, keindahan berarti kemampuan menyajikan sesuatu dalam keadaan apa adanya. Pada masa maraknya de Stijl di Belanda, keindahan berarti kemampuan mengkomposisikan warna dan ruang dan kemampuan mengabstraksi benda.
Konsep the beauty and the ugly
Perkembangan lebih lanjut menyadarkan bahwa keindahan tidak selalu memiliki rumusan tertentu. Ia berkembang sesuai penerimaan masyarakat terhadap ide yang dimunculkan oleh pembuat karya. Karena itulah selalu dikenal dua hal dalam penilaian keindahan, yaitu the beauty, suatu karya yang memang diakui banyak pihak memenuhi standar keindahan dan the ugly, suatu karya yang sama sekali tidak memenuhi standar keindahan dan oleh masyarakat banyak biasanya dinilai buruk, namun jika dipandang dari banyak hal ternyata memperlihatkan keindahan.
Sejarah penilaian keindahan
Keindahan seharusnya sudah dinilai begitu karya seni pertama kali dibuat. Namun rumusan keindahan pertama kali yang terdokumentasi adalah oleh filsuf Plato yang menentukan keindahan dari proporsi, keharmonisan, dan kesatuan. Sementara Aristoteles menilai keindahan datang dari aturan-aturan, kesimetrisan, dan keberadaan.

Sabtu, 01 Mei 2010

NIRMANA

Nirmana adalah pengorganisasian atau penyusunan elemen-elemen visual seperti titik, garis, warna, ruang dan tekstur menjadi satu kesatuan yang harmonis. Nirmana dapat juga diartikan sebagai hasil angan-angan dalam bentuk dwimatra, trimatra yang harus mempunyai nilai keindahan. Nirmana disebut juga ilmu tatarupa. Elemen –elemen seni rupa dapat dikelompokan menjadi 4 bagian berdasarkan bentuknya.
Titik, titik adalah suatu bentuk kecil yang tidak mempunyai dimensi. Raut titik yang paling umum adalah bundaran sederhana, mampat, tak bersudut dan tanpa arah.
Garis, garis adalah suatu hasil goresan nyata dan batas limit suatu benda, ruang, rangkaian masa dan warna.
Bidang, bidang adalah suatu bentuk pipih tanpa ketebalan, mempunyai dimensi pajang, lebar dan luas; mempunyai kedudukan, arah dan dibatasi oleh garis.
Gempal, gempal adalah bentuk bidang yang mempunyai dimensi ketebalan dan kedalaman.
Penyusunan merupakan suatu proses pengaturan atau disebut juga komposisi dari bentuk-bentuk menjadi satu susunan yang baik. Ada beberapa aturan yang perlu digunakan untuk menyusun bentuk-bentuk tersebut. Walaupun penerapan prinsip-prinsip penyusunan tidak bersifat mutlak, namun karya seni yang tercipta harus layak disebut karya yang baik. Perlu diketahui bahwa prinsip-prinsip ini bersifat subyektif terhadap penciptanya.
Dalam ilmu desain grafis, selain prinsip-prinsip diatas ada beberapa prinsip utama untuk tujuan komunikasi dari sebuah karya desain.
Ruang Kosong (White Space)
Ruang kosong dimaksudkan agar karya tidak terlalu padat dalam penempatannya pada sebuah bidang dan menjadikan sebuah obyek menjadi dominan.
Kejelasan (Clarity)
Kejelasan atau clarity mempengaruhi penafsiran penonton akan sebuah karya. Bagaimana sebuah karya tersebut dapat mudah dimengerti dan tidak menimbulkan ambigu/ makna ganda.
Kesederhanaan (Simplicity)
Kesederhanaan menuntut penciptaan karya yang tidak lebih dan tidak kurang. Kesederhanaan seing juga diartikan tepat dan tidak berlebihan. Pencapaian kesederhanaan mendorong penikmat untuk menatap lama dan tidak merasa jenuh.
Emphasis (Point of Interest)
Emphasis atau disebut juga pusat perhatian, merupakan pengembangan dominasi yang bertujuan untuk menonjolkan salah satu unsur sebagai pusat perhatian sehingga mencapai nilai artistic.
Prinsip – prinsip dasar seni rupa
Kesatuan (Unity)
Kesatuan merupakan salah satu prinsip dasar tata rupa yang sangat penting. Tidak adanya kesatuan dalam sebuah karya rupa akan membuat karya tersebut terlihat cerai-berai, kacau-balau yang mengakibatkan karya tersebut tidak nyaman dipandang. Prinsip ini sesungguhnya adalah prinsip hubungan. Jika salah satu atau beberapa unsur rupa mempunyai hubungan (warna, raut, arah, dll), maka kesatuan telah tercapai.
Keseimbangan (Balance)
Karya seni dan desain harus memiliki keseimbangan agar nyaman dipandang dan tidak membuat gelisah. Seperti halnya jika kita melihat pohon atau bangunan yang akan roboh, kita measa tidak nyaman dan cenderung gelisah. Keseimbangan adalah keadaan yang dialami oleh suatu benda jika semua dayan yang bekerja saling meniadakan. Dalam bidang seni keseimbangan ini tidak dapat diukur tapi dapat dirasakan, yaitu suatu keadaan dimana semua bagian dalam sebuah karya tidak ada yang saling membebani.
Proporsi (Proportion)
Proporsi termasuk prinsip dasar tata rupa untuk memperoleh keserasian. Untuk memperoleh keserasian dalam sebuah karya diperlukan perbandingan –perbandingan yang tepat. Pada dasarnya proporsi adalah perbandingan matematis dalam sebuah bidang. Proporsi Agung (The Golden Mean) adalah proporsi yang paling populer dan dipakai hingga saat ini dalam karya seni rupa hingga karya arsitektur. Proporsi ini menggunakan deret bilangan Fibonacci yang mempunyai perbandingan 1:1,618, sering juga dipakai 8 : 13. Konon proporsi ini adalah perbandingan yang ditemukan di benda-benda alam termasuk struktur ukuran tubuh manusia sehingga dianggap proporsi yang diturunkan oleh Tuhan sendiri. Dalam bidang desain proporsi ini dapat kita lihat dalam perbandingan ukuran kertas dan layout halaman.
Irama (Rhythm)
Irama adalah pengulangan gerak yang teratur dan terus menerus. Dalam bentuk –bentuk alam bisa kita ambil contoh pengulangan gerak pada ombak laut, barisan semut, gerak dedaunan, dan lain-lain. Prinsip irama sesungguhnya adalah hubungan pengulangan dari bentuk –bentuk unsur rupa.
Dominasi (Domination)
Dominasi merupakan salah satu prinsip dasar tatarupa yang harus ada dalam karya seni dan deisan. Dominasi berasal dari kata Dominance yang berarti keunggulan . Sifat unggul dan istimewa ini akan menjadikan suatu unsure sebagai penarik dan pusat perhatian. Dalam dunia desain, dominasi sering juga disebut Center of Interest, Focal Point dan Eye Catcher. Dominasi mempunyai bebrapa tujuan yaitu utnuk menarik perhatian, menghilangkan kebosanan dan untuk memecah keberaturan.